Proses Komunikasi Itu Rumit.

Suatu ketika, Tarjo disuruh bossnya untuk beli obat pusing. Pas kewarung, obat tersebut ga ada dan iapun pulang dengan tangan hampa. Lalu bossnya memarahi dengan berkata “kalo ga ada merek yang itu, ya beli merek yang lain donk. Kan yang penting obat pusing”

Di lain kesempatan, atasannya itu keluar dan diganti orang lain. Tarjo kembali disuruh beli obat pusing, dan dengan pengalaman yang lalu saat obat tersebut ga ada, iapun inisiatif untuk beli obat pusing merek lain.. dan taaadaaaa ia kembali dimarahi. Bossnya berkata ” Kalo ga ada ya ga usah beli. Kan saya cuma cocok dengan merek satu itu “

Saat dua orang atau lebih terlibat proses komunikasi, semuanya nampak seolah sederhana dan biasa saja. Ada yang memulai percakapan, ada yang menanggapi. Padahal proses sebenarnya yang terjadi di level fikiran, itu jauh lebih rumit.

Ketika seseorang mendengar percakapan, sebelum ia menanggapi, kata demi kata akan di cerna oleh fikiran bawah sadar, lalu dianalisa berdasar pengalaman yang telah lalu, atau pembelajaran yang pernah ia dapatkan baik dari keluarga, sekolah maupun lingkungan. Dari situlah ia baru menyimpulkan suatu respon berupa tindakan atau perkataan tertentu.

Tapi karena hebatnya sistem tubuh & fikiran kita, seluruh proses itu nampak begitu cepat. Uraian di atas belum termasuk bagaimana saat ia memulai percakapan, mendebat/menyangkal, organ tubuh apa saja yang merespon, hormon apa yang terstimulus, dan lain sebagainya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *