Bahagia Itu Bisa Berbahaya Jika…

Kisah ini terjadi sekitar 2015/2016. Klien yang mengundang saya kedaerahnya (Madiun) memberi saya sopir kusus yang ditugasken melayani saya. Mengantarken ke penginapan, rumah makan, dll dilakuken olehnya.

Nampak jelas oleh saya bahwa dia ini tipikal orang yang sangat menikmati hidup.. rebahan, makan , rokok-an.. pokoknya santai banget, sampai lelet jadinya.

Ya.. kerjanya lelet . Diminta bergegas, rebahan dulu, diminta gerak cepat, nyantai dlu, tiduran dlu, sebat dulu. Jadwal pulang saya pun nyaris telat . Untungnya klien saya bergegas ambil alih nyetarter mobil sehingga dia mau ga mau terpaksa gercep.

Sayapun sempat mikir, gimana kondisi keluarganya dg prangainya yang seperti itu? Dari Keterangan dari klien saya, kayaknya bermasalah (detailnya saya ga mau cerita disini )

Ya sesuai dugaan saya. Wanita pada dasarnya tidak masalah mendampingi suami hidup susah. Tapi akan sangat keberatan jika suami pemalas.

Jadi apakah si sopir ini bahagia? Saya bisa bilang sangat bahagia. Tapi bahagia yang keliru, karena sifatnya egois. Rasa bahagia bisa berbahaya jika hanya diri sendiri yang menikmati, sedangken orang lain disusahken.

Bahagia yang benar adalah ketika kita bisa memberdayaken diri & orang orang lain, sehingga itu menyebar dan dirasaken juga oleh orang disekitar kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *