Istilah overservice ini saya pakai untuk menggambarken kondisi dimana Ortu memberiken akses seluas – luasnya kepada anak, untuk main HP (maupun perangkat lain) dan didukung pemberian akses internet tanpa batas. Bisa dengan Wifi maupun membelikan paket data dalam jumlah besar. Tujuannya agar anak merasa nyaman dirumah sehingga lebih mudah dikontrol. Nyatanya, ini SALAH BESAR.
- Saat mengakses internet, tubuh anak berada di rumah namun fikirannya melayang kemanapun keseluruh penjuru dunia. Ini peluang bagi berbagai pengaruh buruk untuk merasuk dan mempengaruhi fikirannya seperti pornografi, kekerasan, narkoba, budaya yang tidak sesuai, dan lain sebagainya.
- Secara psikis, anak hanya peduli terhadap kenikmatan dan kesenangan yang sifatnya sementara, dan itu sudah tersedia dalam wujud HP dan Internet (game, streaming video, dll). Dengan demikian, dia jadi buta terhadap tanggung jawab belajar, makan, minum, tidur, beribadah, berbakti pada orangtua, dan lain sebagainya.
- Karena HP dan internet sudah mengambil alih otaknya, maka anak memandang kedua hal itu lebih penting dibanding orangtuanya. Akibatnya, ia jadi jauh lebih takut kehilangan HP dan internet ketimbang kehilangan kedua orangtua.
- Orangtua dianggapnya sebagai pembantu, Budak atau Babu. Jika internet ada gangguan, maka ia tinggal ngamuk dengan orangtuanya, agar segera diperbaiki
- Titik paling parah, ortu secara total kehilangan kuasa sehingga benar – benar menghamba pada anak. Mereka jadi pengecut dan sangat ketakutan dengan anak mereka. Di titik inilah masa depan suram anak mulai terlihat nyata.
Sebelum hal buruk diatas terjadi, mulai terapken kendali atas HP dan internet yang diakses anak anda. Kendalinya ada tiga
- Waktu bermain. Bisa satu jam, dua jam, sesuai kesepakatan. Yang penting dibatasi.
- Konten yang diakses. Harus diawasi betul: aplikasi, web, dll. Sekalinya lengah, anak anda terancam.
- Alat akses. Jangan biarkan anak memiliki HP nya sendiri (kecuali SMA keatas). Statusnya harus pinjam dari orangtua. Kontrol juga password wifi agar Ketika dia melanggar kesepakatan, ganti Passwordnya.
Kalau dikontrol, anak ngamuk donk? Gimana itu.. ngamuk, tantrum, itu salah satu cara dia dalam melatih kecerdasan emosinya. Jika dia tidak mampu mengelola ngamuknya saat ini, makai a akan tetap ngamukan Ketika dewasa kelak. Tentu kita tidak mau itu semua terjadi.
Selain beberapa hal diatas, yang perlu diperhatiken adalah, kebanyakan perilaku anak adalah meniru orangtuanya. Jadi orangtua secara pribadi juga harus mampu mengelola dirinya agar tidak terlalu banyak HP-an yang buntutnya adalah ditiru oleh anak.